Runtuhnya USSR: Bencana Terbesar bagi Rusia?

Siapa yang tak mengenal USSR? negara yang bersama AS telah mendominasi dunia selama ±50 tahun di Masa Perang Dingin. Kedua negara adidaya dengan idiologi yang berbeda ini terus bersaing dalam berbagai bidang, termasuk persaingan kemajuan persenjataan militer & perkembangan IPTEK. Berbagai konflik diantara kedua kekuatan sering terjadi, walau tidak ada satu pihak yang berani berkonflik secara langsung dengan lawannya, karena keduanya sama-sama memiliki senjata nuklir. Paling banter, keduanya hanya berperang melawan satu sama lain melalui Proxy War (perang terselubung), lewat konflik militer dari negara-negara sekutunya. Namun karena berbagai kelemahan fundamental & ideologi komunisme, khususnya ketidakmampuan USSR mengatur semua kegiatan ekonomi, USSR mengalami kemunduran & diambang kehancuran.

Pemimpin terakhir USSR, Mikhail Gorbachev merencanakan perubahan lewat 3 Program Utama: Perestroika (Restrukturisasi), Glasnost (keterbukaan) & Demokratizatsiya (demokratisasi). Namun penerapannya yang terlalu tergesa-gesa membuat masalah utama USSR yaitu terlalu banyaknya ikut campur tangan pemerintah, berubah menjadi masalah baru: tidak adanya otoritas yang berwenang & stabilitas nasional. Tahun 1991, Gorbachev terpaksa membubarkan negara komunis pertama & terkuat di dunia. USSR yang semula begitu perkasa kini sudah bangkrut & berakhir, banyak wilayah yang memerdekakan diri. Dari sekian banyak wilayah yang memerdekakan diri, Republik Rusia adalah negara pewaris terbesar & terkuat, negara yang resmi merdeka dari USSR pada tanggal 1 Januari 1992.

Berakhirnya USSR idealnya menjadi lembaran baru yang cerah bagi rakyat Rusia, karena sudah tidak ada lagi kontrol partai komunis atas kegiatan ekonomi rakyat, kegiatan agama & hukuman terhadap orang² yang tidak disukai elit partai komunis. Sayangnya kenyataan tidak seindah itu, pemerintahan Presiden Boris Yeltsin sangat jauh dari kata makmur. Hal pertama yang masyarakat rasakan adalah tidak adanya ketertiban & dimulainya masa-masa penuh kekacauan, mengapa? Tidak adanya kontrol partai komunis tentu memberikan kebebasan bagi rakyat Rusia, namun harus diingat bahwa selama ini masyarakat hidup dibawah sistem komunis, dimana berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk yang menyediakan sadang, papan, dan pangan dikontrol negara.

Apa jadinya jika pihak yang “biasanya” mengontrol berbagai kebutuhan mendasar ini hilang? singkatnya tidak ada yang menyediakan barang² kebutuhan se-hari² seperti makanan & minuman yang dibutuhkan penduduk. Sementara itu, kebangkrutan USSR berarti negara Rusia yang baru kekurangan uang, cara termudah & tercepat mendapat uang adalah dengan menjual BUMN, pabrik, tambang & aset² negara ke pihak swasta, hal ini disebut “privatisasi.” Di negara komunis, semua perusahaan, pabrik, tambang, dsb dioperasikan negara (BUMN), tidak ada sektor swasta sama sekali! Hal ini yang membuat kondisi ekonomi USSR, semakin lama semakin tak efisien & penuh korupsi, yang akhirnya menjadi faktor penyebab runtuhnya USSR. Masalahnya yang saat itu memiliki yang uang cukup untuk membeli aset² negara Rusia adalah orang² korup yang menimbun uang secara ilegal di masa² akhir USSR. Karena pemerintah Rusia benar² butuh uang, BUMN² itupun dijual dengan harga “murah”.

Singkatnya aset² USSR kini dikuasai para elit² baru yang disebut oligarch, OKB yang memanfaatkan kekacauan untuk menguasai ekonomi negara Rusia dengan sangat murah. Proses ini tentu saja membuat murka sebagian besar dari rakyat Rusia, saat rakyat kelaparan akibat runtuhnya USSR, koruptor malah menjadi “Pemilik Rusia”! Mungkin kamu bertanya, loh min emang apa latar belakang para elit ini? USSR itu negara komunis, bagaimana mungkin orang² ini bisa kaya? sampe bisa beli aset2 negara? apakah mereka dulunya adalah mantan manajer korup di BUMN USSR? Jawabannya rada kompleks guys! karena latar belakang mereka bermacam², tapi intinya mereka ini memiliki akses mata uang asing & birokrasi USSR. Vladimir Potanin misalnya, sebelumnya ia bekerja sebagai pejabat di kementerian perdagangan luar negeri.

Boris Berezovsky, sebelumnya adalah kepala peneliti di “USSR Academy of Science,” sementara Roman Abramovich adalah kawan lamanya Berezovsky, sedangkan Mikhail Khodorkovsky sebelumnya hanya pemilik kafe. Berkat koneksi birokrasi & dana dalam mata uang asing inilah, mereka mampu membeli aset negara USSR dengan harga murah meriah. Bayangin! kalau sekarang kita2 cuma bisa iseng2 komen Pro-Pemerintah sambil bilang bismilah komisaris Garuda, komisaris PLN, Dirut Telkom & BUMN lainnya, para oligarch bukan cuma jadi pejabatnya doang tapi sampe jadi “pemilik” BUMN²! Gila gak?! Oh ya, kalau kamu tanya apa jangan² mereka ini agent asing? kalau dari sumber2 yang mimin baca & sumber-sumber yang diriset “mentor” mimin Marcel Sutanto, kami masih belum menemukan buktinya sih ya, kl kamu nemuin fakta unik seputar ini, bisa langsung share di kolom komentar ya! Maka dari itu, mayoritas rakyat Rusia ini membenci mereka & lebih menggangap para elite ini terlalu serakah atau egois, bukan pengkhianat bangsa!

Tahun 1994, kondisi semakin kacau ketika sebuah bagian dari wilayah Rusia yang bernama Chechnya berusaha melepaskan diri, hal ini dengan cepat direspon dengan invasi militer Rusia. Rusia adalah pewaris terbesar dari USSR, dengan kekuatan militer yang sebesar itu, sudah sewajarnya jika Rusia dengan mudah menghancurkan pemberontak. Namun perang tersebut ternyata tidak berjalan sesuai yang diharapan militer Rusia, runtuhnya USSR membuat militernya tidak siap menghadapi konflik, banyak prajurit yang membangkang & korban jiwa akibat kurangnya koordinasi militer semakin meningkat. 14–19 Juni 1995, para pemberontak juga menyandera >1000 rakyat Rusia di RS Budyonnovsk & memaksa pemerintah berunding dengannya. Saat konflik berakhir di Perjanjian Moskow (12 Mei 1997), negara sebesar Rusia terpaksa mengakui kepemimpinan Aslan Maskhadov, salah satu tokoh pemimpin pemberontak.

Perang ini begitu mempermalukan pemerintah Rusia, yang dulunya berhasil mengalahkan berbagai invasi asing seperti Prancis, Jerman & bahkan berani menantang AS di Perang Dingin, militernya babak belur hanya karena provinsi yang memberontak? ia bahkan mengakui kepemimpinan tokoh pemberontak? Kekacauan ekonomi & kekalahan dalam perang itu, menghancurkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintahnya. Ajaibnya di Pemilu 1996, Boris Yeltsin kembali terpilih menjadi Presiden Rusia, tokoh yang bertanggung jawab atas semua kekacauan di Rusia & kesehatannya sendiri mundur, kok bisa menang pemilu? tidak ada yang mustahil dalam politik, terlebih jika kita mengingat lawannya adalah Zyuganov, seorang tokoh dari Partai Komunis, yang tentu dibenci negara-negara barat. Berkat bantuan penasehat² politik negara-negara barat & berbagai negosiasi, ia terpilih kembali. Masyarakat Rusia saat itu berhadapan dengan 2 pilihan, yang pada intinya sama-sama buruk: #1 Kebebasan & Keterbukaan namun segala sesuatu di Rusia serba kacau #2 bayang-bayang penderitaan masa lalu dibawah rezim komunisme yang terkenal sangat otoriter. Singkatnya “Kekacauan hari ini vs penderitaan masa lalu.” Pilihan ini, masih diikuti dengan pertanyaan yang mungkin lebih menghantui rakyat Rusia, siapakah yang memimpin Rusia setelah Yeltsin tidak ada lagi? Apakah lebih buruk?!

Kelemahan Yeltsin semakin terlihat di tahun 1998, setelah kondisi ekonomi Rusia semakin buruk, surat hutang yang dijual pemerintah Rusia semakin tidak laku, karena gak ada yang berani ngasih utang pemerintah Rusia. Untuk mengobati masalah ekonominya, pemerintah terpaksa menawarkan bunga yang sangat tinggi, bahkan sempat mencapai 150% / tahunnya! Barulah para pemilik modal mulai berani kembali membeli surat hutang. Sayangnya, ekonomi Rusia masih terus memburuk, hutang dari luar negeri yang dipakai untuk menutup defisit belanja negara Rusia, kasarnya hutang baru terpaksa digunakan untuk membayar hutang lama. Agustus 1998, sebagai akibat dari melemahnya ekonomi dunia karena krisis ekonomi Asia Tenggara, biaya perang Chechnya, kelemahan ekonomi Rusia sendiri, dan berbagai faktor lainnya, mata uang Rusia akhirnya terpaksa diturunkan nilainya (di devaluasi).

Mata uang yang menurun artinya kemampuan membayar hutang luar negeri, juga ikut menurun & Rusia kehilangan kemampuan membayar hutangnya. Singkatnya Negara Rusia bangkrut! Ini buruk bukan cuma pemberi hutang, tapi juga bagi rakyat Rusia yang membeli surat hutangnya, khususnya bank² lokal yang membeli surat hutang sebagai asset, kondisi ini diperparah dengan kebijakan yang lebih memprioritaskan pembayaran hutang luar negeri. 31 Desember 1999, Yeltsin mengakui bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi memimpin Rusia. Hal ini tidak mengherankan, toh tingkat kepercayaan rakyat Rusia kepadanya saat itu tinggal 2%. Yang mengejutkan mungkin adalah pertanyaan mengenai sosok pemimpin yang menggantikan posisinya sebagai Presiden Rusia, terlebih tokoh tersebut ternyata adalah Perdana Menterinya sendiri, Vladimir Putin.

Reaksi masyarakat Rusia & dunia mirip-mirip, “HA SIAPA? Siapa sih Vladimir Putin?” apakah kepemimpinannya akan menciptakan hari depan baru bagi Rusia? ataukah masa kepemimpinannya akan lebih buruk dibanding pemimpin Rusia yang sebelumnya, Boris Yeltsin? Perhatian dunia tertuju kepada sosok baru, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai mantan agen KGB, sekaligus mantan pemimpin FSB (dinas rahasia Rusia, penerus KGB). Seperti apakah kepemimpinannya? Apakah ia lebih baik dibandingkan Yeltsin? atau jangan2 karena dulunya ia pernah kerja di KGB, pemerintahan Rusia akan mengulang kembali sistem yang ada seperti di jaman USSR?

Apa pendapatmu mengenai Putin? apakah ia lebih baik dibandingkan Yeltsin? yuk tulis pendapatmu di kolom komentar 😊

Ditulis: Marcel Susanto, Diedit: Michang

Daftar Pustaka:
Richard Sakwa: The Putin Paradox
Samuel P. Huntington: Political Order in Changing Societies
Carnegie Moscow Center: Just an Oil Company? The True Extent of Russia’s Dependency on Oil and Gas
https://carnegie.ru/commentary/61272 diakses tanggal 1 Juni 2021.
CountryEconomy.com: Russia National Debt
https://countryeconomy.com/national-debt/russia diakses tanggal 3 Juni 2021.
Dmitri Furman: The origins and elements of imitation democracies: Political developments in the post-Soviet space
https://www.eurozine.com/the-origins-and-elements-of-imitation-democracies/ diakses tanggal 4 Juni 2021
Macrotrends: Russia Poverty Rate 1993-2021
https://www.macrotrends.net/countries/RUS/russia/poverty-rate diakses tanggal 4 Juni 2021
Trading Economics: Russia Foreign Exchange Reserves
https://tradingeconomics.com/russia/foreign-exchange-reserves diakses tanggal 4 Juni 2021

Leave a Reply

%d bloggers like this: