Pasukan Berani Mati Jepang

Tulisan ini ditulis oleh Sigit Candra, di edit Inspect History

Serangan bunuh diri tentara Jepang yang dikenal dengan sebutan “Kamikaze.” Kata kamikaze sendiri berarti angin Dewa. Tokkotai adalah unit khusus dalam militer Jepang yang dipersiapkan untuk melakukan aksi bunuh diri ini dengan menabrakkan pesawat yang mereka kendalikan ke kapal-kapal Amerika Serikat.

Unit Tokkotai dibentuk oleh Laksamana Madya Toki jiro Ohnisi. Dia adalah Panglima Armada Udara pertama yang memimpin seluruh pasukan udara Jepang di Fillipina. Operasi Militer pertama Kamikaze dimulai pada tanggal 18 Oktober 1944 dengan sasaran armada kapal induk Amerika Serikat. Upaya ini dilakukan agar Angkatan Laut Amerika Serikat tidak mengganggu armada laut Jepang. Operasi Militer ini diberi nama Sho yang berarti kemenangan. 

Serangan kamikaze pertama dilakukan oleh Laksamana Madya Masafumi. Saat memimpin 100 pesawat pembom tukik Yokosuka D4Y, Masafumi secara tiba-tiba menukikkan pesawatnya dan menghantam kapal induk USS Franklin. Kapal itu hancur. Pangkat mendiang Masafumi lalu dinaikkan menjadi setingkat Laksamana. 

Kenekatan pasukan udara Jepang dalam melakukan Kamikaze berakar dari semangat Bushido. Semangat Bushido adalah semangat untuk loyal dan menjunjung tinggi kehormatan sampai mati. Semangat ini merupakan tradisi dari para Samurai. Para Samurai akan selalu menjaga kehormatan bangsa dan kaisar meskipun nyawa menjadi taruhannya. Bushido adalah sebuah keyakinan yang membuat hati mereka tidak goyah meskipun sedang menghadapi maut. Justru merupakan aib jika mereka tertangkap oleh musuh dalam keadaan hidup.

Nama para pejuang Kamikaze yang gugur akan diabadikan di Kuil Yasukuni. Kuil ini adalah kuil Shinto yang paling sering dikunjungi kaisar. Para penganut Shinto akan merasa terhormat jika namanya diabadikan di kuil itu.

Namun di balik kisah heroik para pelaku Kamikaze, ada juga beberapa orang Jepang yang justru menganggap bahwa dibentuknya pasukan bunuh diri ini merupakan sebuah blunder yang dilakukan oleh para pemimpin militer Jepang. Pernyataan itu dilontarkan oleh Sub-letnan Saburo Sakai yang merupakan penerbang kartu As angkatan laut Jepang pada perang dunia dua.

Pemimpin Redaksi harian Yomiuri Shimbun, Tsuneo Watanabe menyebut para pasukan Kamikaze sebagai pemuda yang tersesat di “rumah pembantaian.” Dia berkata bahwa cerita tentang pilot-pilot muda yang dengan senang hati melakukan Kamikaze hanyalah omong kosong belaka. Para pemuda itu melakukannya dengan keterpaksaan, bahkan ada sebagian yang sampai tak bisa berdiri dan harus dipaksa masuk ke dalam kokpit.

Jumlah kapal perang yang berhasil dirusak oleh pasukan Kamikaze masih menjadi perdebatan. Pihak Amerika Serikat mencatat, Jepang melancarkan 2800 serangan Kamikaze dan menenggelamkan 34 kapal perang. Merusak 368 kapal, menewaskan 4900 pelaut dan melukai 4800 orang. Kamikaze adalah catatan sejarah umat manusia yang tak hanya heroik namun juga ironis.

Sumber: Majalah Angkasa edisi koleksi, Kamikaze, PT. Mediarona Dirgantara.

Leave a Reply

%d bloggers like this: